MOVING AVERAGE (Bagian II)

2. Moving Average

Moving average, dari kata-katanya saja kita sudah bisa menebak artinya. Average berarti rata-rata, artinya indikator ini menggunakan nilai rata-rata. Misalnya MA20, artinya menggunakan nilai rata-rata 20 candle/bar ke belakang. Moving artinya bergerak, hal ini menandakan bahwa indikator ini bersifat dinamis dan akan terus berubah mengikuti harga terakhir. Ada beberapa pertanyaan mendasar mengenai moving average, seperti :

  • Berapa lama periode yang harus digunakan ?
  • Apakah harus menggunakan yang short (misalnya MA5), ataukah yang longterm average (misalnya MA200) ?
  • Apakah harga closing adalah harga yang paling baik untuk digunakan, ketimbang open, high dan low ?
  • Apakah akan lebih baik kalau menggunakan multiple moving average ?
  • Apa tipe yang harus digunakan , apakah yang simple, weighted atau exponential moving average ?

Mari kita coba bahas satu per satu setiap pertanyaan di atas secara lebih mendetail.

1. Berapa periode yang harus dipakai dalam moving average ??

Moving average pada dasarnya adalah trend indikator. MA merupakan trend follower, bukan trend leader, sehingga MA adalah indikator yang bersifat lagging(terlambat). MA tidak pernah mengantisipasi pergerakan harga, MA hanya bereaksi terhadap pergerakan harga yang terjadi. Moving average intinya mengikuti pergerakan harga dan dapat memberikan indikasi apakah suatu trend sudah dimulai atau sudah berakhir.

Selain sebagai indikasi trend, moving average juga berguna untuk memperhalus pergerakan harga, sehingga pergerakan harga yang tidak smooth bisa diwakilkan dengan garis yang lebih enak untuk diihat. Untuk periode yang digunakan, semua tergantung trader mau memakai periode yang mana, hanya saja secara umum periode yang sering digunakan adalah MA20, MA50, MA100 dan MA 200. Ada juga trader yang memilih menggunakan periode dari angka angka fibonacci seperti MA5, MA8, MA13, MA21, MA34, dll. Bahkan beberapa trader melakukan backtesting untuk menentukan berapa periode MA terbaik yang menghasilkan keuntungan maksimal. Semakin kecil periode yang digunakan, maka semakin kecil lagging yang ditunjukkan oleh moving average, seperti ditunjukkan pada gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1

Terlihat pada gambar 2.1 di atas, MA20 lebih dekat dengan candle dibanding dengan MA50, begitu juga MA50 lebih dekat dengan candle dibanding MA100. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa trader dapat menentukan berapa periode yang harus digunakan, dengan mengacu pada timeframe waktu yang digunakan. Apabila untuk short term, bisa menggunakan MA20, bahkan bisa menggunakan MA5, namun perlu diingat semakin kecil periode yang digunakan, maka semakin rentan moving average mengalami volatilitas pergerakan harga. Untuk mid sampai long term timeframe, misalnya weekly, trader bisa menggunakan MA100 dan MA200.

Pada gambar 2.1 di atas juga terlihat fungsi lain dari moving average, yaitu sebagai support dan resisten. Terlihat bahwa MA20 menjadi support kuat untuk beberapa waktu, sampai akhirnya ditembus dan sekarang harga masih berkutat di MA50. Salah satu cara membacanya adalah sebagai berikut :

  • Apabila harga menembus MA20 dari bawah ke atas, maka bisa dikatakan saham tersebut mengalami uptrend untuk waktu yang singkat (short term uptrend)
  • Apabila harga di atas MA50 dan MA20 crossing MA50 dari bawah ke atas,g maka bisa dikatakan saham tersebut mengalami mid term uptrend

Apabila harga di atas MA 100 dan MA20 berada di atas MA50, serta MA50 crossing MA100 dari bawah ke atas maka bisa dikatakan saham tersebut mengalami longterm uptrend. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di gambar 2.2 di bawah ini.

Gambar 2.2

Dengan demikian, trader dapat mengambil posisi buy ketika harga sudah menembus MA20 dari bawah ke atas, yaitu ketika memasuki fase short term uptrend. Kemudian menambah posisi buy ketika terbentuk mid term uptrend dan long term uptrend. Sedangkan posisi sell di lakukan ketika harga sudah menembus MA20 dan MA50 dari atas ke bawah atau ketika MA20 cross MA50 dari atas ke bawah.

Secara default, biasanya digunakan harga closing untuk perhitungan moving average, dan biasanya ini digunakan oleh online trading platform yang ada sekarang. Tapi sebenarnya trader bisa juga menggunakan beberapa data berikut ini, antara lain :

  • midpoint, yaitu menggunakan nilai (High+Low)/2
  • Typical , yaitu menggunakan (H+L+C)/3
  • Range, yaitu menggunakan (H-L)

Namun pada prakteknya, yang paling sering digunakan tetap closing price, sehingga lebih disarankan untuk menggunakan closing price sebagain acuan.

2. Yang manakah dipakai dalam moving average, harga close,open, high atau low ??

Secara default, biasanya digunakan harga closing untuk perhitungan moving average, dan biasanya ini digunakan oleh online trading platform yang ada sekarang. Tapi sebenarnya trader bisa juga menggunakan beberapa data berikut ini, antara lain :

  • midpoint, yaitu menggunakan nilai (High+Low)/2
  • Typical , yaitu menggunakan (H+L+C)/3
  • Range, yaitu menggunakan (H-L)

Namun pada prakteknya, yang paling sering digunakan tetap closing price, sehingga lebih disarankan untuk menggunakan closing price sebagain acuan.

3. SMA, WMA, EMA dan VWMA

Ada 4 tipe moving average secara umum, yaitu Simple Moving Average (SMA), Weighted Moving Average (WMA), Exponential Moving Average (EMA) dan Volume Weighted Moving Average (VWMA). Perbedaan keempatnya adalah dari pembobotan yang diberikan kepada tiap data.

Simple Moving Average (SMA) menggunakan pembobotan yang sama untuk setiap data, misalkan MA10, berarti kesepuluh data masing-masing mempunyai bobot yang sama, yaitu 10%. Banyak trader menganggap SMA memiliki kelemahan karena pembobotan yang diberikan ke data 10 hari lalu, sama dengan pembobotan yang diberikan ke data hari ini. Hal ini kurang tepat karena data hari ini seharusnya mendapat bobot lebih banyak karena data hari ini tentunya lebih penting dalam menentukan arah harga ke depannya, dibanding dengan data 10 hari yang lalu.

Weighted Moving Average (WMA) menggunakan pembobotan yang berbeda untuk setiap data, misalkan MA10, maka data pada hari yang ke 1 (data hari ini) diberikan pembobotan lebih banyak daripada data pada hari ke 10 (data 10 hari yang lalu). Untuk lebih jelasnya dapat dlihat perbedaan pembobotan antara SMA dan WMA pada tabel 2.1 di bawah ini

Tabel 2.1

Exponential Moving Average (EMA) menggunakan pembobotan yang berbeda untuk setiap data, sama seperti WMA. Hanya saja pembobotan yang diberikan berbeda dengan WMA. Penulis tidak akan menjabarkan formula yang panjang di tulisan ini, namun perlu diketahui bahwa pembobotan EMA terlihat seperti tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2

Pertanyaannya, manakah yang harus kita gunakan ? manakah yang lebih akurat diantara SMA, WMA dan EMA ? Perhatikan gambar 2.3 di bawah ini sebagai perbandingan antara SMA, WMA dan EMA.

Gambar 2.3

Dari gambar 2.3 terlihat jelas bahwa SMA 20 hampir sepanjang waktu berada di posisi paling bawah dari antara ketiga moving average. Hal ini membuktikan bahwa SMA merupakan indikator moving average yang paling lagging. Namun hal ini juga memberikan keuntungan karena untuk trading jangka panjang, maka SMA seperti terlihat di gambar di atas hampir tidak pernah tersentuh oleh harga di saat sedang uptrend. Artinya SMA bisa digunakan sebagai support ataupun resisten yang cukup akurat.

Bagaimana dengan EMA ? Terlihat bahwa EMA lebih mendekati candle yang ada, dibandingkan dengan SMA, tapi masih lebih dekat WMA terhadap candle daripada EMA. Hal ini menandakan bahwa EMA lebih leading daripada SMA, tetapi masih tetap lagging bila dibandingkan dengan WMA. Tetapi perlu diingat bahwa semakin leading suatu line terhadap price, maka makin rawan line itu mengalami volatilitas yang disebabkan oleh fluktuasi harga. Berarti WMA lebih rawan terhadap volatilitas bila dibandingkan dengan EMA. Kesimpulannya, EMA dan WMA lebih cocok digunakan untuk short term.

Maka dapat disimpulkan bahwa:

  • SMA lebih cocok digunakan sebagai support resisten jangka panjang
  • EMA lebih cocok digunakan untuk support resisten short term
  • WMA, karena sifatnya yang paling leading, cocok digunakan untuk mengambil keputusan entry dan exit.

Lantas apakah ketiga MA itu harus digunakan ? menurut penulis pribadi tidak perlu, karena cukup pakai salah satu saja yang terasa lebih pas dan sreg di hati. Bagaimanapun, MA hanyalah indikator, fakor psikologis trader lah yang memainkan peranan penting, lagipula selisih antara SMA, WMA dan EMA tidak terlalu banyak.

Maka pilihan diserahkan ke masing-masing trader untuk menggunakan yang mana, asal sesuai dengan trading sistem masing-masing, maka hasilnya tentu akan optimal.

Ada juga yang disebut dengan Volume Weighted Moving Average (VWMA), yaitu moving average yang pembobotannya di dasarkan pada volume transaksi. Semakin besar volume pada suatu harga, maka akan semakin besar pula nilai dari moving average tersebut.  Hasil dari moving average ini biasa disebut dengan Volume Weighting Average Price (VWAP).  VWAP bisa digunakan sebagai support dan resisten, bila harga berada di bawah VWAP bisa dikategorikan dalam kondisi bearish, sedangkan bila harga berada di atas VWAP bisa dikategorikan dalam kondisi bullish. Perhatikan gambar 2.4 di bawah ini.

Gambar 2.4

Terlihat pada gambar 2.4 bahwa garis VWAP sangat menyimpang jauh sekali dari garis SMA, hal ini dikarenakan lonjakan volume yang tinggi pada beberapa harga, sehingga VWAP bisa juga dijadikan acuan untuk menentukan titik support dan resisten.

Nah setelah dibahas detail tentang macam-macam moving average, pada Bagian III akan dibahas tentang contoh aplikasi moving average.

2 comments

  1. common Trader Reply

    Terima kasih infonya. Ulasan tehnikal analisis yg sangat detail. Semoga pengunjungnya banyak dan berguna bagi pemula saham seperti saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *