Fenomena Grup Saham

Setelah sebelumnya penulis mencoba mengamati mengenai fenomena stock pick premium di dunia saham akhir-akhir ini, kali ini penulis tertarik untuk memberikan pendapat penulis tentang fenomena grup-grup saham baik yang ada di Whats App, Telegram, Line, dan lain sebagainya. Penulis sendiri memiliki pengalaman di KICK di beberapa grup baik grup WA, Tele dan Line.

Alasan penulis di kick pun beragam, ada karena beda pendapat dengan yang empunya grup (grup i**u sa**m), waktu itu penulis agak heran kenapa ini sang empunya grup, selalu me-rekomendasikan saham yang menurut penulis berkualitas “super gorengan” dan tidak likuid. Ya, sebenarnya sah-sah saja seseorang memberikan sp saham manapun, namanya juga analisa, kan bebas saja orang mau analisa saham apa. Cuma lama kelamaan penulis perhatikan kebanyakan saham yang di pom-pom adalah saham-saham yang tidak likuid. Penulis jadi berpikir bagaimana kalo ada yang ikutan beli dan ternyata nyangkut ? Penulis juga berpikir, sebenarnya apa tujuannya sang pemilik grup melakukan hal demikian ?

Sampai suatu saat terjadilah peristiwa itu, di malam hari H-1, penulis ingat sang empunya grup memberikan kode suatu saham (entah saham apa, penulis tidak bisa mengingatnya sampai sekarang, karena itu saham tidak pernah penulis perhatikan sama sekali), bahwa dia akan beli saham itu. Para anggota grupnya disuruh haka (hajar kanan) saja, nanti naik ke langit ketujuh, katanya. Nah pagi2 di hari H, saham itu memang naik 4%, dan sang empunya grup mulai suruh membernya untuk “haka”, disini penulis merespon dengan berkomentar “jangan dihaka dulu, nanti kalo mau beli juga bisa beli di bawah, keliatan masih bisa turun dulu”. Tidak lama setelah penulis menuliskan tersebut, harga saham kembali ke harga open (0%) dan penulis sudah tidak berada di grup itu lagi…(emangnya enak di KICK, muahahaha). Di akhir perdagangan saham hari itu, saham tersebut ditutup dengan mengalami penurunan (-3% atau -4%, penulis lupa).

Nah dari kasus ini penulis jadi berpikir, jangan2 sang empunya grup sudah punya saham tersebut di harga bawah, kemudian melakukan aksi pom2, supaya membernya haka, sementara sangempunya grup melakukan aksi take profit (menjual sahamnya) dengan leluasa, Ah..tapi itu hanya pemikiran penulis saja, bisa jadi benar tapi bisa jadi juga tidak salah….entahlah…

Pengalaman kedua penulis di kick adalah dari grup Arto***o…YA !! Ini grup yang sangat fenomenal, membernya ribuan orang, yang empunya grup dikenal dengan sebutan sang Jendral. Sang Jendral memang fenomenal, dikenal dengan anonimnya, konon kabarnya tidak banyak orang yang tahu mengenai identitas aslinya. Banyak yang menyebut dia adalah “Sang Bandar”, sehingga saham apapun yang direkomendasikannya akan selalu naik (katanya…katanya). Penulis ingat waktu itu cuma menyodorkan analisa, bahwa menurut penulis saham META ada kemungkinan bisa naik. Ternyata besok nya saham tersebut tidak naik, dan ketika sang Jendral bertanya kenapa META tidak naik, penulis hanya menjawab “terserah si bandar kapan mau menaikkannya”. Dan tiba-tiba saja penulis sudah out dari grup tersebut…Ha-Ha-Ha. Penulis tidak tahu alasannya apa sampai sekarang….Mungkin sang jendral tersinggung, karena penulis menyebut-nyebut kata bandar…Maapkan aku ya jend :))

Pengalaman ketiga adalah di grup yang juga cukup fenomenal, Yuh**…Kalo yang ini sang empunya di grup dikenal dengan nama Panglima. Di grup ini yang paling sadis pom-pomnya. Tapi untunglah itu dulu, sekarang sang empunya sudah mulai hilang dari peredaran sejak kasus portofolio palsu beberapa waktu lalu. Biar bagaimanapun, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya bisa jatuh juga kan ??

Dari contoh ketiga grup di atas, pasti ada retail yang menjadi korban. Sudah menjadi hukum alam bahwa yang kuat akan memangsa yang lemah, yang lebih teredukasi akan memangsa yang kurang teredukasi. Jadi tentukan saja pilihan anda sendiri, mau jadi pemangsa atau yang dimangsa ??

Anyway, sebenarnya itu hak mereka sang empunya grup, mau nge-kick siapa…Penulis tidak keberatan, karena toh itu grup punya mereka. Tapi yang penulis mau soroti adalah bagaimana opini itu dibangun sedemikian rupa di dalam grup dengan kata-kata seperti : “saham A layak beli untuk sekarang, ayo dibeli, jangan sampe ketinggalan”, ” go go go”, “saham A akan segera sampe ke 5000 (padahal harga sahamnya sekarang cuma 60 perak)”. Hati-hati dengan modus seperti ini, dan kadang-kadang itu di forward di banyak grup, seolah-olah ingin memberi informasi, padahal itu bisa sangat menyesatkan loh !

Penulis hanya mau mengajak trader retail untuk menyadari bahwa dunia saham ini dunia yang kejam. There is no free lunch, memang ada sih penulis kenal orang2 di dunia saham yg baik, namun hanya segelintir, Daripada kita sebagai retail mengandalkan orang lain, kenapa kita tidak mulai meng-edukasi diri sendiri, sehingga kalau ada rekomen di grup , ya kita simak, pelajari, kita lihat chart nya. Dan apabila setelah kita lihat chart nya, dan memang bagus menurut analisa kita, ya boleh kita ikutan beli. Tapi jangan sampe kita membabi buta mengikuti anjuran orang tersebut, dan tanpa trading plan yang matang hanya tinggal klik “BUY” saja. Maka sesungguhnya yang dirugikan adalah kita sendiri.

Ingatlah bahwa seberapapun uang yang anda tradingkan, itu adalah uang hasil kerja keras anda. Jadi sudah selayaknya anda lebih berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan trading. Kecuali uangnya diperoleh dari hasil penggandaan kanjeng dimas, maka ga apa apa anda hambur-hamburkan, toh dapetnya gampang…hihihi

Akhir kata, penulis sendiri tidak anti dengan grup2 social media, ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan, antara lain saling bertukar info penting seputar dunia saham, saling sharing analisa masing-masing, bisa jadi ajang cari jodoh, bisa jadi ajang silahturahmi (menambah teman, jangan menambah musuh loh yah..), dan bisa juga jadi ajang saling mengingatkan.

Maka dari itu gunakanlah social media dengan bijak, gunakan untuk terus meng-upgrade skill dan meng-upgrade knowledge kita sebagai trader, supaya kedepannya kita menjadi trader yang semakin baik lagi. Jangan sampai kita masuk ke dalam golongan trader yang menjadi korban manipulasi pihak-pihak yang hanya ingin mengeruk keuntungan pribadi dari kejamnya dunia pasar modal. Sekian. Salam Cuan !!

9 comments

  1. Bangdul Reply

    Kalau bang dul pribadi suka ngumpulin saham dari pasar nego, dan itupun di promo sejak nego rendah, khusus buat pribadi sendiri….setelah gerak di bahas dimana-mana… salah siapa coba? di promo pas nego bawah…sudah gerak baru jadi bahasan. memang secara trader untuk mendapatkan gain 100% capital gak ada soal, tapi masanya dah lewat….

  2. NVN Reply

    kalo Novan suka pom” saham yang naik aja lah, SMBR,NIKL,PPRO,KAEF,INAF muahahaha

  3. Moedjianto Reply

    Adakah orang jadi tajir karena saham? Adaa…
    Adakah orang jadi bangkrut karena saham? Buanyaakk…
    Mau diakui atau tidak, dunia saham adalah permainan yang bersifat zero sum game (kata Al Brooks).
    Jadi kalo ada yang sedang girang lonjak lonjak karena baru saja eksekusi cuan, pasti diwaktu yang sama, di suatu sudut tempat lain ada yang sedang panen jangkrik.
    “jangkrik, kemarin udah dilepas!”
    “jangkrik, telat masuk!”
    “Jangkrik bandare!”
    dan jangkrik2 lainnya 🙂 🙂

    apa yang membedakan pemain saham tajir dan bangkrut?
    simple!.
    Yang pertama serius terus belajar.
    Yang kedua, awalnya serius belajar, karena itu berkelana masuk ke group2 saham premium.
    yang awalnya masuk ke komunitas saham dengan niat belajar, karena beragam sebab dan alasan akhirnya stagnan, malah sepenuhnya bergantung pada penguasa group.
    Apalagi jika selama jadi pengikut, cuan terus berlimpah…
    “Pejah gesang nderek panglima..”
    “Merah kata Jendral merah kata saya, Ijo kata Jendral ijo kata saya!”
    banyak yang terlena oleh cuan sesaat dan lupa bahwa mereka ada di pusaran zero sum game…

    cepat atau lambat, musim panen segera berakhir…
    cepat atau lambat, musim gugur pasti datang…
    siap nggak siap musti siap…
    laksana pejantan tangguh, trader tangguh itu seperti yang dibilang seseorang,
    “ndak perduli market naik atau turun, cuan akan terus bertebaran…sayangnya cuan itu tidak untuk setiap orang.. cuan itu spesial hanya untuk yang punya ilmu, skill, dan mental yang terlatih”
    dan itu jelas bukan saya…
    suer bukan saya!
    setidak tidaknya untuk saat ini.

    salam demokrasi saham

  4. Pangjayana Reply

    Inspiratif, semoga membuka mata trader baru nyemplung ke dunia saham.
    Ga semua baik dan jujur, tapi ga semua jahat dan licik.
    Ambilah keputusan sendiri dan belajarlah sama yg baik.
    Yang baik mw ngajarin koq kaya penulis diatas.

    Makasi suhu

  5. Kahfi.H Reply

    Yooo … Saya pribadi merasakan apa yang dibilang pal moedji, begitu juga Om etuz.
    Dan saya setuju bahwa seseorang terdahulu(senior : ometuz, dkk) beserta group saham yg di join, merupakan aplikasi kita buat belajar Dr mereka bukan malah menjadi ketergantungan dengan stock pick.
    Buat Om etuz terimakasih atas semua ilmunya, salamcuan_ilmuGR.

  6. win Reply

    saya sih pernah join grup si art**, dengan nick jendral. saya sih out sendiri. dan memang, rekomennya aneh….sepertinya grupnya / pengikutnya disuruh makan barang dia. lupa kasus saham apa deh…saham yg high kolesterol kita suruh makan….
    hebatnya ga pada berani komen…..kalo join grup kaya gitu…percuma…cuma jadi ajang pembodohan…
    makanya membernya mulai pada hilang sepertinya…..

  7. fender Reply

    wow.. emejing.. mata terbuka pikiran terbuka jidat mengerut keras.. terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *