KNOW YOUR TIME FRAME

Di dalam trading, ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesuksesan seorang trader. Tetapi secara garis besar bisa dikategorikan menjadi 3, yaitu Psikologis, Money Management dan Metode Trading. Nah dari ketiga hal ini, ada satu faktor yang dapet mempengaruhi ketiga hal tersebut, yaitu Time Frame. Sadar atau tidak, setiap trader mempunyai timeframe nya masing-masing, dan menentukan timeframe yang benar sangat penting untuk bisa sukses di dalam trading. Yuk, kita bahas sekilas mengenai timeframe ini.

Apa itu timeframe? Timeframe secara gampangnya adalah rentang waktu yang menjadi patokan seorang trader dalam trading. Timeframe yang dipilih tentu saja akan mempengaruhi style seorang trader. Styel trader berdasarkan timeframe bisa terbagi menjadi 4 secara garis besar :

1. Intraday Trader / Scalper
Scalper memiliki timeframe maksimal hanya 1 hari, bahkan kadang hanya beberapa menit saja.

2. Swing Trader
Swing Trader memiliki timeframe dari 2-3 hari sampai 2-3 minggu.

3. Position Trader
Position Trader memiliki timeframe dari 3-4 minggu sampai 3-4 bulan.

4. Semi Investor Trader
Semi Investor Trader memiliki timeframe minimal 5-6 bulan, bahkan bisa tahunan.

Tentunya beda timeframe, maka akan membedakan bagaimana prinsip money management yang dipakai dan tentu saja metode trading yang dipakai untuk menentukan entry, cutloss, dan take profit pun pasti akan berbeda. Saya tidak mau membahas mengenai masalah itu sekarang. Di tulisan kali ini saya akan mencoba membahas, bagaimana cara menentukan timeframe yang sesuai dengan kepribadian kita masing-masing.

Seorang trader harus memilih timeframe yang sesuai dengan kepribadiannya. Setiap individu memiliki natural timeframe nya masing-masing. Natural timeframe ini adalah timeframe yang menjadi kecenderungan kita sebagai individu, dan untuk dapat sukses dalam trading, maka natural timeframe harus sama dengan timeframe trading yang kita pilih. Mungkin anda bertanya, mengapa ? Jawabannya adalah karena market merupakan struktur dari timeframe yang berbeda. Setiap individual trader menggerakkan market dengan persepsinya masing-masing, dengan asumsi, ekspektasi dan emosinya masing-masing. Tidak ada trader yang trading berharap agar rugi, semuanya inginnya untung. Semuanya berharap bisa cuan dengan batasan timeframe masing-masing.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut. Anggap seorang trader, ketika dia entry, ternyata 2-3 hari kemudian harga malah turun terus dari harga pembeliannya. Apabila seorang trader yang tidak paham batasan timeframenya, ketika harga turun terus, maka dia kemungkinan akan cut loss posisinya, karena takut bahwa harga akan makin turun. Tetapi apabila hal itu terjadi kepada swing trader, yang sudah mempunyai trading plan dengan jelas, ketika harga nya turun dan masih belum mengenai titik cutloss nya, maka trader itu tidak akan terlalu ambil pusing. Dia akan sabar menunggu, karena dia tahu cepat atau lambat besar kemungkinan harga akan tetap naik di atas harga pembeliannya, mungkin bisa minggu depan, atau 2 minggu lagi, bagi sang swing trader tidak menadi masalah sama sekali, kecuali harga turun mengenai titik stoploss nya, maka dia akan menutup tradingnya dengan kerugian. Dari contoh terlihat bahwa trader yang memahami batasan timeframenya, tidak akan mudah goyah dikala terombang ambing oleh volatilitas harga di pasar.

Lantas apa saja guidance untuk menentukan, seperti apa timeframe yang harus kita pilih? Ada beberapa panduan, beberapa diantaranya adalah:

  1. Seberapa sering anda dapat memantau pergerakan harga?
    Jika anda masih bekerja, dan trading sebagai sampingan, maka kurang bijak memilih sebagai scalper, karena tidak bisa memantau harga terus-menerus. Mungkin gaya yang cocok adalah swing atau position trader atau bahkan semi investor trader.
  2. Apa tipe kepribadian anda?
    – Jika anda adalah tipe yang tenang, suka menganalisa, dan penyabar, maka swing trading/position trader cocok untuk anda
    – Jika anda adalah tipe pemikir yang cepat, punya intuisi trading yang tinggi, maka scalper cocok untuk anda.

Setelah kita memahami timeframe, maka strategi trading tentu saja akan menyesuaikan timeframe yang ada. Bagi seorang scalper, tidak perlu menjadi pengikut trend follower, karena cukup bermain dengan volatilitas pun, mereka bisa mendapatkan keuntungan. Lain halnya dengan seorang swinger atau position trader, mereka tidak bisa menerapkan strategi trading yang hanya mengeksploitasi volatilitas harga, mereka harus memakai prinsip trend follower, memeras trend sampai habis atau istilahnya LET YOUR PROFIT RUN !

Begitupun dengan money management, tentunya akan berbeda. Seorang scalper, tidak butuh risk reward ratio (RRR) yang tinggi, RRR 1:1 pun cukup buat mereka. Berbeda dengan swing atau positon trader, minimal 1:2 RRR barulah cukup untuk menjadi lampu hijau masuk ke dalam suatu saham.

Belum lagi posisi positon sizing ketika entry, seorang scalper bisa menggunakan 100% portofolio nya untuk masuk ke dalam suatu posisi, tetapi tentu dengan memasang stoploss yang ketat, tidak ada kompromi bagi seorang scalper. Berbeda halnya dengan seorang swing trader, dia harus membagi portofolionya menjadi beberapa saham (disarankan maksimal 6 saham) dan ketika entry pun harus menggunakan sistem cicilan, sambil di average up ketika harga sahamnya terus naik, serta jarak antara entry dan cutloss pun bisa dibuat agak lebar guna mengantisipasi volatilitas pergerakan saham secara harian (terutama untuk saham-saham yang range pergerakan daily nya cukup tinggi).

Terlihat kan, bagaimana timeframe itu mempengaruhi banyak aspek, belum lagi kalau kita membahas masalah psikologis trading, beda timeframe maka akan beda psikologis trading yang dibutuhkan.

Lantas sudahkah anda menemukan timeframe anda sendiri ??

Salam Cuan

Etuz

1 Comment

  1. Widjajanto Reply

    Bagus sekali, terutama buat mereka yg pemula, shg bisa segera memilih posisi yg nyaman sesuai dg karakter masing2 tanpa perlu banyak trial n error.
    Sy jadi teringat bhw tiap benda punya NATURAL Frequency masing2 yg bila digerakkan dg frekuensi yg sama dg natural frequency nya, maka gerakan/getaran nya akan ber resonansi menjadi besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *