CUT LOSS DAN KONCO-KONCO NYA

Setelah KNOW YOUR TIME FRAME dan DEFINE YOUR RISK, maka langkah selanjutnya dalam trading adalah melaksanakan bagian daripada DEFINE YOUR RISK, yaitu melakukan CUT LOSS apabila ternyata harga bergerak turun dari harga pembelian. Di mana titik cutloss yang ideal? Seperti pembahasan sebelumnya di DEFINE YOUR RISK, cutloss ideal itu bisa banyak kategorinya tergantung apakah anda sebagai scalper, swinger atau semi investor. Selain CUT LOSS, ada lagi beberapa hal yang perlu kita lakukan sebagai trader guna meminimalisir kerugian  atau memaksimalkan cuan yang ada. Apa saja itu? Mari kita bahas satu per satu, termasuk juga kita bahas mengenai CUT LOSS.

  1. CUT LOSS
    Cut Loss, satu kata yang membuat trader merasa sedih kalau mendengarnya. Mengapa? Karena seringkali ketika cutloss sudah dilakukan, detik itu juga harga langsung bergerak naik. Mengapa itu terjadi? Apakah bandar sudah mengincar trading saya? Seolah-olah saya memang sengaja diincar untuk keluar dari posisi dan saham bergerak naik tanpa saya di dalamnya. Sering merasa begitu dan akhirnya anda berpikir bahwa cara yang paling tepat dalam trading adalah tanpa memasang titik cutloss? Dan kemudian di trading berikutnya anda berjanji tidak akan memasang titik cutloss, dan ternyata apes nya di trading kali ini, harga tidak memantul naik, malahan turun terus dan terus turun sampai loss begitu dalam dan menggerus porto anda? Jadi sebenarnya mana sih yang benar, harus melakukan cutloss atau tidak? Kalau anda tanya saya, maka saya sebagai trader akan menjawab, WAJIB hukumnya pasang cut loss, dan masukkan cutloss itu dalam trading plan, jadi sebelum entry, kita sudah tahu dimana kita akan cutloss. Lantas gimana kalo setelah cutloss harga malah memantul balik? Ya beli lagi. Eh setelah beli lagi harga turun lagi trus anda cutloss lagi. Ya beli lagi. Kalau ada suatu saham sampai 3-4 kali melakukan hal itu terhadap anda, permasalahannya adalah bukan pada sahamnya. Tetapi pada anda! Evaluasi lah trading anda, karena itu berarti anda tidak paham pola pergerakan sahamnya, karena anda tidak paham maka anda SALAH dalam menentukan titik cutloss nya. Ya, kalau anda sering cutloss, jangan langsung berasumsi bahwa cutloss itu salah. NO! Anda saja yang belum tepat menentukan titik cut loss yang baik untuk saham tersebut. Kalau anda belajar menyetir mobil dan ternyata anda malahan tabrakan terus beberapa kali, apakah itu artinya MOBIL nya yang salah? muahahahaha….MIKIRRRRRRRRRR..tapi kebanyakan trader berpikir seperti itu lohhh..

    INGAT! Cut loss adalah RISK MANAGEMENT TOOL, ini salah satu cara trader mengakui, bahwa pasar itu bergerak dalam probabilitas dan ada resiko yang harus ditanggung oleh setiap trader.Nyatanya cut loss itu sangat membantu, menghadapi ketidakpastian di dalam dunia pasar modal. Tidak ada yang pasti di dunia pasar modal, kecuali sekuritas pasti dapat fee dari trading anda. Itu pasti. Ada juga yang bilang chart itu pasti bergerak ke kanan..Muahaha…Benar juga, itu juga pasti. Apalagi semakin pendek timeframe, ada kecenderungan saham itu bergerak makin random, dan pergerakan harganya sangat rawan dimanipulasi. Untuk itulah kita perlu yang namanya cutloss, tetapi untuk bisa menghasilkan cuan konsisten, tidak cukup hanya cutloss, perlu ada yang namanya positive expectancy dalam trading sistem yang kita miliki. Apa itu poisitive expectancy ? Nantikan tulisan mengenai hal ini di artikel selanjutnya.

  2. TRAILLING STOP
    Apa sih trailling stop itu ? Kalau cutloss itu RISK MANAGEMENT TOOL, maka Trailling stop adalah PROFIT MANAGEMENT TOOL. Ya, trailling stop(TS) melindungi keuntungan yang sudah kita peroleh. Misalkan posisi trading kita sudah floating profit, tentu kita tidak ingin posisi itu berubah menjadi loss, se-apes apes nya ya cuma rugi fee ga pa pa lah…Nah ini lah gunanya TS. Melindungi cuan. Caranya ? Misal kita entry suatu saham di harga 100 dan pasang cutloss di harga 90, ketika harga naik ke 110, maka kita pasang cutloss di harga 100. Inilah yang dinamakan Trailling stop, mengunci posisi sehingga tidak ada resiko kita merugi. Mengapa di 100? Mengapa tidak pasang di 105? Boleh saja. Asal anda paham pergerakan sahamnya seperti apa. Contoh saham seperti SRIL, kalau anda pasang TS hanya 3-4 tick dari high, maka rentan sekali TS anda akan terkena, mengingat volatilitas pergerakan harganya. Betul?Jadi gimana cara ideal menentukan TS ? Ini kembali lagi ke style masing2. Scalper tentu pasang TS dekat dengan high suatu saham, Swinger seperti saya bisa pasang TS jauh dari high, bahkan position trader bisa pasang TS nya jauh sekali dari harga high. Contoh saya, karena saya swing, misalnya suatu saham sudah floating profit 10%, baru saya pasang TS di harga entry. Jadi apes-apesnya, ya saya rugi fee lah.

    Ada yang bilang, mengapa tidak jual saja pas sudah floating profit 10%, daripada ga cuan, mendingan cuan. Kalau saya berprinsip, mendingan loss sesuai trading plan saya, daripada saya cuma cuan 10%, karena saya adalah swing trader, saya mengincar cuan minimal 25% setiap kali trading. Mana tahu misalnya saya entry di 100, trus harga naik ke 110, trus saya pasang TS di 100, kemudian harga turun ke 104, kemudian naik ke 125 dalam waktu singkat dan cepat. Kalau anda pasang TS di 105, maka sudah terjual sahamnya. Yang jual di 110, biasanya jadi takut masuk lagi ketika harga sudah lanjut naik, ataupun kalau masuk lagi, harga avg nya kan jadi tinggi, cuan tidak maksimal. Kalau saya, santai saja…ride the wave, modal saya 100..hehehe…Apa selalu seperti itu? Tidak juga. Sering juga terjadi kena TS saya dan harga terus turun, jadi saya rugi fee..Tapi itulah dinamika dalam trading, semua hanya kemungkinan-kemungkinan. Metode ini namanya let the profit run. Bahkan ketika harga saham naik terus, saya akan average up, menambah posisi guna memaksimalkan keuntungan. CUT YOUR LOSSES SHORT AND LET YOUR PROFIT RUN, dua kata ini adalah koentji guna mendapatkan cuan konsisten. Jangan buru-buru dijual kalau sudah cuan, tetapi cepatlah cutloss kalau sudah loss (dengan syarat ada positive expectancy). Tetapi masih banyak trader yang berpikir sebaliknya, CUT YOUR PROFIT SHORT AND LET YOUR LOSSES RUN. Itulah penyebab kerugian konsisten di dalam trading.

  3. Never ADD to a loser
    Jangan pernah menambah modal anda pada trading yang sudah merugi, alias jangan average down. Sebagai trader ini wajib dilakukan, walaupun dengan pengecualian-pengecualian. Kalau investor sih sering dan senang melakukan average down. Misalnya begini, saya entry di 100, kemudian harga turun ke 90, dan saya menambah posisi, dan parahnya saya menambah posisi dengan jumlah lot sebanyak 2x daripada entry di 100(ini namanya MARTINGALE money management method)…Ini bahaya sekali. Harapannya kalau harga saham balik ke 95 saja, maka pasti sudah untung donk, iya kalau balik ke 95, kalau mblesek ke 80?? Ingat, dalam trading semua cuma kemungkinan. Memang bisa saja ternyata harga memantul balik, tetapi apakah akan selalu memantul? Menurut saya average down tidak bijak dilakukan, kecuali karena 1 alasan, yaitu anda punya info BANDAR dan anda tahu itu valid. Kalau itu, silahkan…muahahhaaJadi yang benar gimana? Yang benar adalah average up. Lah kalau average up, maka average harga jadi tinggi donk, gimana kalau setelah kita average up, maka harga berbalik turun? Maka pakailah metode average up PIRAMIDA, jangan menggunakan piramida terbalik. Contoh averga up piramida adalah sebagai berikut :Kita ambil contoh SRIL, misalkan kita akan entry di SRIL dengan modal total di portofolio 100 juta rupiah, dan maksimal kita ingin hanya 4 saham di dalam porto (memang idealnya jangan lebih dari 6 saham), maka berarti maksimal untuk SRIL ini adalah menggunakan modal total 25 juta rupiah.

    Misal kita punya trading plan seperti ini :

    Entry : 310
    Exit : 280

    Guna meminimalisir resiko, maka kita hanya akan meresikokan 2% dari porto untuk setiap posisi, artinya hanya 2 juta rupiah yang kita resikokan untuk loss setiap kali buka posisi, maka hitungan jumlah lot total yang boleh dibeli adalah sbb :

    jumlah lot = 2 juta / ((310-280) x 100)
    = 666 lot

    jumlah uang yang dikeluarkan = 666 lot * 310 = 20,6 juta

    Berarti ini memenuhi syarat dimana maksimal pembelian menggunakan 25 juta rupiah.

    Namun perlu di ingat, bahwa jangan langsung beli semua 666 lot di harga 310, tetapi cicil saja.

    Misal :
    Cicilan 1 di 310 = 300 lot (9.6 juta)
    Cicilan 2 di 320 = 150 lot (4.8 juta)
    Cicilan 3 di 330 = 100 lot (3,3 juta)
    Cicilan 4 di 340 = 66 lot (2,2 juta)
    Cicilan 5 di 350 =50 lot (1,75 juta)
    Maka ketika baru cicilan 1 dan harga turun, maka kerugian yang kita terima lebih kecil, hanya sekitar 1% dari total porto.

    Memang kalau harga sahamnya terus naik, maka avg kita akan naik, hanya saja ini sistem piramida, jadi kalaupun setelah cicilan ke 3 dan ternyata harga turun ke bawah cicilan 3, masih akan tetap cuan.

    Keuntungan mungkin tidak akan bisa semaksimal kalau langsung beli di harga 310, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa ketika kita beli di 310, dan harga bisa langsung naik terus? Ketika trader trading, dia harus berpikir dalam kerangka pikiran probabilitas, dalam trading semua hanyalah kemungkinan-kemungkinan

  4. Don’t overtrade
    Ini adalah penyakit trader. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak bisa memfilter pilihan, terlalu banyak ikut grup WA atau TELE dan mendengar banyak pom-pom di sana. Akibatnya melihat banyak sekali saham yang bagus dan akhirnya maunya semua saham dibeli. Semua saham yg naik, maunya dimiliki. Ini tidak sehat. Mengapa? Selain overtrade membuat cuan tidak maksimal, overtrade juga membuat trader berpotensi loss. Overtrade adalah ciri dari trader yang KURANG SABAR dalam menunggu kesempatan yang ada, dan seringkali juga merupakan pertanda betapa frustrasinya sang trader melihat hasil tradingnya. Ciri overtrade adalah misalnya membuka posisi yang sama di suatu saham, berkali-kali dalam satu hari tetapi terus menerus mengalami loss. Contoh masuk di DEWA 70, cutloss di 68, eh naik lagi DEWA nya, masuk lagi di 70, eh turun lagi, eh cutloss lagi…dst nya….muahahhaa…Ini adalah ciri-ciri kurang sabar dalam menunggu kesempatan dan tidak adanya trading plan yang jelas. Trading hanya berdasarkan impuls sesaat, emosi sesaat yang sangat membahayakan.

Sekian dulu untuk ulasan mengenai cut loss dan konco-konconya, selamat menikmati weekend bersama orang yang dicintai, jangan baca TELE terus bos..hehe

God bless u all

Salam cuan

Etuz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *