APAKAH SAYA BERBAKAT MENJADI TRADER ?

“Ah, sudahlah, mungkin emang gue ga bakat jadi trader bro, loss terus nih”

“Kenapa ya orang bisa cuan terus, sementara saya kok loss terus, apakah saya memang engga berbakat jadi trader?”

Sering mendengar celotehan seperti itu di kalangan trader? Menurut saya pendapat itu terbersit karena mereka memiliki tolak ukur yang kurang tepat di dalam menilai performa trading mereka.

Pertama-tama mari kita mulai dengan melihat kesuksesan orang-orang berpengaruh di dunia ini. Di dalam bukunya yang berjudul Outliers, Malcolm Gladwell mencoba meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan orang seperti Bill Gates, Bill Joy, The Beattles ,dll. Tidak bisa dibantah, mereka semua memiliki bakat dan kepandaian yang dibutuhkan untuk menggapai sukses di bidangnya masing-masing. Tapi apabila dirunut ternyata mereka semua memiliki satu persamaan yang identik, yaitu jam terbang yang memadai. Bill Joy, belajar cukup lama di University of Michigan, menghabiskan waktu sekitar delapan sampai sepuluh jam setiap harinya, hingga akhirnya dapat menguasai ilmu pemrograman komputer dengan baik. Bill Gates, sudah mulai mempelajari soal komputer sejak SMA, mempelajari komputer rata-rata 8 jam setiap harinya. Tidak heran ketika Bill kuliah di Harvard, dia sudah sangat paham soal pemrograman komputer. Thw Beattles, sebelum mereka benar-benar ngetop, mereka sudah memiliki jam terbang manggung selama 7 tahun, bermain band 8 jam setiap harinya di Hamburg selama 2 tahun, dan diperkirakan sebelum ngetop, mereka sudah manggung sebanyak 1200 kali.

Hal ini selaras dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog K. Anders Ericsson dan dua rekannya di Academy of Music yang elit di Berlin. Di akademi musik itu, mereka membagi para pemain biola menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama berisi para pemain bintang, siswa dengan potensi menjadi pemain biola solo kelas dunia. Kelompok kedua berisi pemain yang dinilai bagus. Sedangkan kelompok ketiga berisi para pemain yang kemungkinan besar tidak akan pernah bermain secara profesional, dan berkeinginan menjadi guru musik. Kepada ketiga kelompok itu diajukan pertanyaan yang sama : Selama karir nya sebagai pemain biola, sejak pertama kali bermain biola, berapa lama latihan yang sudah mereka lakukan? Hasilnya, semua orang di ketiga kelompok rata-rata mulai bermain di usia yang sama, sekitar usia lima tahun. DI tahun pertamanya, semua berlatih sama banyaknya, sekitar dua sampai tiga jam setiap minggunya. Tetapi pada saat mereka berusia delapan tahun, perbedaan yang nyata mulai terlihat. Siswa kelompok pertama berlatih enam jam seminggu pada usia sembilan tahun, delapan jam seminggu pada usia dua belas tahun, enam belas jam seminggu pada usia empat belas tahun dan terus meningkat sampai usia dua puluh tahun. Para pemain elit ini, kurang lebih sudah menghabiskan selama sepuluh ribu jam latihan sampai dengan usia dua puluh tahun. Sedangkan kelompok kedua berlatih sekitar delapan ribu jam, dan kelompok ketiga hanya berlatih sekitar empat ribu jam. Maka diambil kesimpulan bahwa, untuk dapat menjadi ahli di bidangnya, seseorang minimal membutuhkan waktu belajar sepuluh ribu jam (10,000 jam).

Sekarang apakah di trading berlaku hal yang sama ? TENTU SAJA ! Kalau kita hitung, misalkan kita tambahkan jam aktif bursa sebagai jam pembelajaran kita (delapan jam sehari) ditambah mungkin kita belajar membaca buku sekitar 2 jam sehari dan melakukan skrining saham selama 2 jam sehari, maka artinya kita  dalam sehari melakukan pembelajaran sebanyak 12 jam. Dalam seminggu  (asumsikan sabtu dan minggu libur, tidak membaca buku sama sekali dan tidak melakukan skrining saham) melakukan pembelajaran sebanyak 60 jam (12 jam x 5), maka dalam setahun (anggap setiap hari bursa buka, tidak ada libur) jam pembelajaran yang terjadi adalah sebanyak 3120 jam (60 jam x 52). Berarti untuk mencapai 10,000 jam, dibutuhkan minimal 3.2 tahun. Ingat, dibutuhkan 3.2 tahun ! Lantas kenapa banyak trader yang baru beberapa bulan di bursa sudah merasa bahwa mereka tidak berbakat trading ? Memang bakat cukup berperan dalam trading, tapi apakah hanya dengan bakat, tanpa jam terbang, Bill Gates dan The Beattles dapat menjadi se-terkenal sekarang? Saya rasa tidak !!

Lantas kenapa kalau kita lihat, banyak sekali trader sekarang mempunyai opini yang salah tentang bagaimana mengukur kesuksesan dalam trading. Nah, sepanjang pengamatan saya, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebabnya, mari kita bahas satu per-satu

1. Trader beranggapan bahwa trading itu mudah
Trading itu memang mudah, cukup dengan buka rekening, deposito sejumlah uang, kemudian anda sudah bisa melakukan transaksi. Ya mudah bukan? Kemudian cukup install OLT di hape atau PC, kemudian tadaaaa, sudah bisa transaksi. Pakai OLT nya pun tidak susah, kalo mau beli tinggal pencet BUY, kalo mau jual tinggal pencet SELL. Gampang kan? Nah mungkin , faktor kemudahan ini membawa trader berpikir bahwa trading itu mudah, karena sebegitu gampangnya jaman sekarang untuk dapat melakukan transaksi. Bahkan banyak trader segitu gampangnya mengambil keputusan, lebih cepat mengambil keputusan untuk membeli saham A daripada mengambil keputusan mau makan siang di restoran mana.

2. Banyaknya seminar, kursus, dsbnya yang memberikan gimmick marketing, bahwa seolah-olah trading itu mudah. Maaf tanpa bermaksud menyinggung siapapun, tapi bukankah banyak kita lihat slogan iklan seperti itu.
“CUKUP BELAJAR DARI KAMI 3 HARI, CARA GAMPANG CARI CUAN”

“CUKUP BELAJAR INDIKATOR A,B,C, MAKA PROFIT GAMPANG DIDAPAT”

“CUKUP BELI TOOLS INI, MAKA PROFIT MUDAH DIDAPAT”

Faktanya ? Trading itu memang mudah, tapi untuk mendapatkan profit konsisten itu tidak mudah. Tidak cukup hanya belajar 3 hari, tidak cukup hanya belajar indikator dewa, tidak cukup hanya membeli tools dewa. Kalau cari uang dari trading itu mudah, sudah banyak orang yang kaya dari trading. Kalau cuma pakai indikator dewa sudah bisa mendatangkan profit, maka dibanding jaman dulu, pasti jaman sekarang makin banyak trader yang mendapatkan profit, karena dibanding dulu, sekarang ada banyak sekali indikator yang baru, yang diklaim dapat memberikan profit konsisten.

3. Semakin menjamurnya grup telegram, whatsapp, dll yang dimana banyak anggotanya sering berbagi cerita. Sering kan baca chat oknum yang suka pamer cuan nya, atau suka klaim dia sudah cuan, tiap kali harga suatu saham sudah turun, dia bilang “untung saya sudah jual tadi di pucuk”, atau tiap kali ada saham yang sudah naik tinggi, dia bilang “untung saya sudah beli tadi di harga bawah”. Apabila hal ini dilakukan terus menerus, klaim seperti ini bisa membuat trader lain berpikir bahwa kok orang lain bisa cuan terus, tapi sementara dia loss terus.

Faktanya ? Terlepas dari apapun motivasi yang melatarbelakangi oknum tersebut di atas, believe me, trader yang sukses itu tidak akan pernah gembar gembor cuan nya, apalagi di grup yang banyak orangnya. Untuk apa? Untuk membuktikan bahwa dia bisa cuan? Dan seperti kata pepatah “Don’t get distracted by others’ investment prowess. Most investors only discuss their successes, threatening your focus and confidence.”

Lantas, apa yang harus dilakukan ? JANGAN TERBURU-BURU BERKATA BAHWA ANDA TIDAK BERBAKAT TRADING. Memang ada orang yang nampaknya begitu berbakat, bahwa dalam waktu singkat, dia bisa profit konsisten, Sementara ada trader lain yang terlihat agak lamban. So what gitu lohh. Kita tidak bisa memaksakan ritme kita untuk mengikuti ritme orang lain. Setiap orang bergerak dalam kecepatannya masing-masing, tapi bukan berarti bahwa ketika anda terlambat, anda langsung mengecap diri anda sebagai bodoh, tidak berbakat, dll…not at all !

Kisah nyata adalah Mark Minervini, yang bukunya sudah saya baca berulang-ulang, dan dengan jujur dia menceritakan bahwa butuh waktu 6 tahun bagi dia untuk bisa mendapatkan profit yang konsisten. Bayangkan, 6 tahun tanpa profit. Barulah di tahun yang ketujuh, dia mulai mendapatkan profit yang konsisten, kemudian dia mengikuti U.S. Investiong Championship dan berhasil menjadi juara 1, dengan mencatat rekor keuntungan sebanyak 155 persen selama setahun. Setelah itu dengan akun pribadinya, Mark berhasil meningkatkan akun trading pribadinya menjadi jutaan dolar dengan keuntungan rata-rata setiap tahun sebesar 220 persen selama lebih dari lima tahun berturut-turut dengan hanya mengalami satu kali rugi sebesar seperempat persen. Suatu keuntungan total sebesar 33,500 persen yang luar biasa. Akun sebesar $100,000 meledak menjadi lebih dari $30 juta hanya dalam waktu lima tahun saja.

Jadi, berikut sedikit saran dari saya bagi teman2 dan handai taulan yang mungkin merasa masih bisa belum mendapatkan profit konsisten, dan mungkin  sudah mulai menyerah dan putus asa :

1. Embrace the process

Nikmati setiap proses yang ada, profit maupun loss. Ingatlah bahwa setiap orang bergerak dalam kecepatannya masing-masing. Jadi nikmati saja kecepatan yang kita miliki, tidak usah iri dengan progress orang lain, apalagi mengurusi portofolio orang lain, tidak berguna.

Tony robbins said “most people overestimate what they can do in 2 years, and underestimate what they can do in 10 years.”

Kebanyakan trader yg baru masuk di bursa, menganggap mereka akan mampu mengalahkan pasar dan mencetak return tinggi dlm waktu dekat, ketika mereka baru mulai trading. Tetapi ketika mereka sudah menjalani trading selama 1-2 tahun dan melihat susahnya trading, mereka akhirnya pesimis akan hasil trading mereka di masa yang akan datang. Padahal, dalam jangka waktu panjang, kita bisa memaksimalkan hasil apabila kita memang berfokus dan terus berusaha.

2. Keep learning

Teruslah belajar. Ada kalanya ketika kita sudah belajar pun, prakteknya terasa tidak mudah. Mungkin anda sudah baca banyak buku, tanya sana sini, tapi kok rasanya nihil. Ingatlah bahwa seseorang tidak menjadi mahir menyetir hanya karena sudah membaca buku BAGAIMANA MENGENDARAI MOBIL DALAM WAKTU SINGKAT. Semua butuh praktek dan latihan, begitu juga dengan trading. Teruslah belajar, evaluasi hasil trading anda dan kumpulkan pengalaman selangkah demi selangkah.

3. Never give up

Jangan pernah menyerah. Jalan meraih kesuksesan itu tidak gampang, kadang orang hanya melihat sisi enaknya saja, tanpa pernah melihat perjuangan yang pernah dilakukan. Padahal untuk dapat mencapai kesuksesan, tidak mudah, butuh pengorbanan dana, waktu, tenaga, perasaan, dll. Teruslah berjuang, live success or die trying.

Sebagai penutup tulisan ini (semoga tidak membosankan ya), ijinkan saya menceritakan kisah sukses mengenai Soichiro Honda.

Ya, Soicihiro Honda adalah pencipta perusahaan Honda yang kita kenal sekarang. Pada 1938, ketika masih sekolah, Honda menggunakan semua hartanya untuk mendirikan bengkel kecil dimana dia mulai mengembangkan konsep piston ring miliknya. Dia bercita-cita menjual karyanya kepada Toyota Corporation, sehingga dia bekerja siang malam, tidur di bengkel, dengan kepercayaan bahwa dia bisa menghasilkan suatu karya. Ketika dia menyelesaikan desain piston ring miliknya dan menunjukkannya ke Toyota, dia diberitahu bahwa desainnya tidak memenuhi standar Toyota. Apa dia menyerah ? TIDAK ! Dia lanjut bersekolah selama 2 tahun, dimana dia ditertawai mengenai oleh para guru dan teman2nya konsep desainnya. Apa dia menyerah ? TIDAK !

Setelah 2 tahun, akhirnya Toyota membeli hasil desainnya. Tapi apes, waktu itu jaman perang, sehingga pemerintah Jepang menolak memberikan beton yg diperlukan untuk membangun pabrik impiannya. Apa dia menyerah? TIDAK ! Dia mencoba menemukan cara membuat beton dan kemudian membangun pabrik mereka sendiri. Akhirnya pabriknya bisa berdiri.

Selama perang, pabriknya di bom dan menghancurkan sebagian besar peralatan produksinya. Apa dia menyerah ? TIDAK ! Dia mengumpulkan timnya dan mengambil kaleng bensin yg dibuang oleh pesawat tempur Amerika, dan membuatnya menjadi bahan baku utk membuat pabriknya. Akhirnya pabriknya berdiri, dan apesnya lagi, terjadi gempa bumi, akhirnya pabriknya rata dengan tanah.

Sekali lagi, apa dia menyerah ? TIDAK!! Dia memutuskan menjual rancangannya kepada toyota dan dia mencari cara lain. Setelah perang, kelangkaan bensin besar2an menimpa Jepang dan Honda dlm keadaan putus asa, menaruh sebuah mesin kecil di sepedanya. Ternyata para tetangganya berminat dengan desain “sepeda bermesin” dari Honda, mereka membeli desainnya sampai Honda kehabisan mesin. Akhirnya dia memutuskan membangun pabrik utk memproduksi penemuan mesinnya yg baru, tetapi sayangnya dia tidak punya modal.

Apa dia menyerah ? TIDAK !! Dia mengirim surat kepada 18,000 pemilik toko sepeda di Jepang dan berkata bahwa mereka bisa ikut berperan dalam membangun kembali Jepang, dan akhirnya berhasil meyakinkan 5000 dari merek untuk memberikan modal yg diperlukannya. Namun ada masalah lagi, sepeda motornya hanya dijual kepada penggemar sepeda karena ukurannya yg terllau besar.

Apa dia menyerah ? TIDAK !! Dia melakukan desain ulang dan membuat sepeda motor yg lebih kecil yg kita kenal sampai sekarang, sehingga dia bisa dapat mengekspor sampai ke Eropa dan Amerika, dan akhirnya dia juga memproduksi mobil pada tahun 70’an.

Saat ini Honda Corporation mempekerjakan lebih dari 120,000 org di seluruh dunia, dan dianggap sebagai salah satu pabrik kendaraan terbesar di Jepang, yang penjualnnya mengalahkkan semua pabrik mobil kecuali Toyota di Amerika.

salam cuan

etuz

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *