APA ITU TEKNIKAL ANALISIS ?

Sekarang ini, penggunaan teknikal analisis sebagai alat bantu dalam melaksanakan kegiatan trading sudah cukup marak. Cukup ketikkan “teknikal analisis” di laman pencarian, anda akan menemukan begitu banyak ulasan mengenai teknikal analisis. Tulisan kali ini akan membahas mengenai konsep dasar dari teknikal analisis, namum sebelum itu, ada baiknya kita belajar sejarah teknikal analisis itu sendiri.

Sejarah Teknikal Analisis
Catatan tentang penggunaan teknikal analisis di jaman dulu tidak dapat ditemukan secara pasti. Salah satu catatan tentang penggunaan teknikal analisis pada jaman dahulu adalah oleh seorang pedagang beras di Jepang bernama Sokyo Honma pada tahu 1700-an. Honma menjadi sangat kaya dari hasil trading beras. Metode trading-nya disebut dengan Sakata method. Namun pada waktu itu metode tradingnya belum tercatat dalam chart, karena memang belum ada chart pada jaman tersebut.

Barulah pada akhir tahun 1800an, Charles Dow yang dikenal dengan sebutan BAPAK TEKNIKAL ANALISIS, memperkenalkan indeks saham untuk mengukur kinerja pasar saham. Tidak sampai di situ, Dow juga berkontribusi terhadap ditemukannya DOW THEORY, yang menjadi dasar dari teknikal analisis yang dipergunakan sampai dengan sekarang. Setelah ditemukannya DOW THEORY, kemudian bermunculan para pionir teknikal analisis seperti Richard D. Wyckoff yang meneliti hubungan antara price vs volume. Kemudian ada Richard W. Schabacker yang menemukenali banyak pattern dalam pola pembentukan harga, seperti triangle, pennant, head and shoulder, dll.

Selanjutnya ada W.D. Gann yang membawa evolusi di dunia teknikal analisis dengan teori astrolonomi nya (astrologi + astronomi). Kemudian ada juga teori Elliot wave yang dikembangkan oleh R. N. Elliot yang mengambil filosofi dari dow theory dan mengembangkannya sedemikian rupa. Namun kesemuanya itu belum lengkap tanpa menyebutkan Robert Edwards dan John Magee yang menulis buku tentang teknikal analisis pertama yang komprehensif pada tahun 1948. Buku karangan mereka yang berjudul “Technical Analysis of Stock Trends” sampai sekarang masih digunakan dan dianggap sebagai “kitab suci” dalam teknikal analisis.

Cerita ini berlanjut dengan ditemukannya On Balance Volume dan Moving Average oleh Joseph Granville pada tahun 1959. Pada tahun 1960, konsep Rate of Change (ROC) yang menjadi cikal bakal momentum indikator mulai ditemukan. Dan seiring dengan perkembangan teknologi komputer pada tahun 1970-an, makin banyak indikator ditemukan seperti Relative Strength Index (RSI), Parabolic SAR, ADX, dan Average True Range oleh J. Welles Wilder. Kemudian terus berlanjut dengan ditemukannya Moving Average Divergence Convergence (MACD) oleh Geral Appel. Dan yang tidak kalah pentingnya, pada akhir tahun 1980-an dibawanya candlestick chart ke dunia barat oleh Steve Nison menjadi salah satu penemuan fenomenal sampai dengan sekarang.

Apa Itu Teknikal Analisis?
Selanjutnya untuk memahami apa itu teknikal analisis, terlebih dahulu kita harus mendefinisikan terminologi-nya secara benar.

Penulis dalam hal ini mengambil definisi teknikal analisis dari kitab suci Technical Analysis of Stock Trends menurut pendapat Edward dan Magee :

“Teknikal analisis adalah ilmu dalam hal mencatat, biasanya dalam bentuk grafik, tentang sejarah trading secara aktual (perubahan harga, volume transaksi, dll)”

Sedangkan menurut John J. Murphy dalam bukunya Technical Analysis of Financial Market :

“Teknikal analisis adalah studi tentang market action (harga dan volume), biasanya dalam bentuk grafik, dengan tujuan memprediksi harga di masa yang akan datang”

Jadi Teknikal analisis dapat disimpulkan sebagai ilmu yang mempelajari tentang pergerakan harga dan volume dari masa lalu dan sekarang, untuk memprediksi pergerakan harga di masa yang akan datang.

Banyak pemahaman trader yang masih salah mengenai teknikal analisis, hal itu nampak dari pertanyaan seperti berikut ini:

  • Besok harga bisa ke mana ya ?
  • Kira-kira besok masih naik ga ya harganya?
  • Nanya donk, saham A masih bisa ga ke harga sekian?

Pertanyaan semacam ini menandakan kesalahpahaman mengenai teknikal analisis. Loh bukannya tadi pengertiannya untuk memprediksi harga di masa depan? Hmm… Begini penjelasannya. Teknikal analisis bukanlah ilmu nujum untuk memprediksi harga dengan akurat, namun dengan melihat rambu-rambu yang ada, kita bisa memperkirakan sampai pada batas tertentu, apa yang akan terjadi pada suatu saham apabila bergerak ke harga sekian-sekian.

Misalnya, apabila harga memantul dari support dan membentuk candle bullish reversal seperti misalnya Bullish engulfing, dan candle bullish engulfing itu terkonfirmasi, maka ada peluang harga akan bisa naik menuju resisten terdekat. Namun semua itu kembali lagi pada beberapa hal, misalnya trend saham itu sendiri, trend indeks yang terjadi, sentimen yang mempengaruhi sektor saham tersebut, dll.

Jadi harus gimana dong? Gunakan konfirmasi harga sebagi petunjuk satu-satunya. Jadi lebih baik bereaksi terhadap pergerakan harga yang terjadi,ketimbang memprediksi, Misalnya seperti pada chart di bawah ini

Apakah chart di atas memprediksi ? YA pada batasan tertentu karena ada batasan stoploss dan take profit yang diambil menggunakanf falsafah dasar dari teknikal analisis. Tapi chart di atas tidak memprediksi bahwa harga akan ke 1600, jadi beli saja, karena kemungkinannya cuma akan naik. Nah analisa seperti inilah yang disebut PREDIKSI YANG TERLARANG. Mengapa ? Karena dengan hanya mempertimbangkan 1 opsi, yaitu harga hanya akan naik, maka pikiran manusia hanya akan condong ke arah naik. Ketika harga bergerak turun, akan ada banyak penyangkalan dalam diri, menunggu harga untuk naik, sementara harga terus turun dan kerugian semakin dalam. Inilah yang salah dalam memahami filosofi dari teknikal analisis. Ingat, REACTION IS FOR KING, PREDICTION IS FOR SLAVE !

Jadi mulai sekarang, jangan mau terima analisa dalam bentuk chart kalau tidak ada 2 opsi kemungkinan yang akan terjadi. Untuk apa terima analisa chart dari orang yang tidak paham teknikal analisis?

Demikian sekelumit pengenalan dengan teknikal analisis, nantikan artikel lainnya yang lebih bermanfaat hanya di kampungsaham.com

15 comments

  1. Dede kurniawan Reply

    Terima kasih prof…pencerahannnya sangat terang seterang lampu pilip 😊

  2. Dede kurniawan Reply

    Terima kasih prof…pencerahannya sangat terang seterang lampu pilip

  3. Didik Reply

    Jadi prediksi yang “tidak terlarang” yang gimana Pa, apakah prediksi yang dua arah…?

  4. Didik Reply

    Jadi prediksi yang “tidak terlarang” yang gimana Pa, apakah prediksi yang dua arah (kemungkinan naik/ turun)…?

  5. Darno Reply

    Menarik tulisanya…. TA bukan ilmu nujum. Kalau yg saya tangkap bahwa yg penting adalah reaksinya. Reaksi jika harga naik harus bagaimana. Dan reaksi jika harga turun harus bagaimana. Namun seringkali reaksi yg sudah disiapkan buyar atau tidak dijalankan ketika ada khawatir. Khawatir kalau take profit, atau kalau cutlos jangan2 malah harga saham terbang. Bagaimana utk atasi rasa khawatir ini Min?

    • Aciang Reply

      Menurut hemat saya, sdr Darno, pertanyaan Bapak adalah topik tersendiri lagi yaitu mengenai trading psychology yang mana lazim disebut di NKRI sebagai psikologi trading. Nantikan tulisan berikutnya dalam situs kampung saham mengenai topik psikologi trading. Salam

  6. Onang Reply

    Lanjutkan frof entus.karena sy msh nubie sy baru sebatas penikmat.semoga makin banyak trader yg tercerahkan dan sugih spt frof entus

  7. Mostly Reply

    Thx Pa .nambah wawasan buat saya yg nubie.sama Pa suka khawatir.ada ga ya caranya biar ga khawatir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *